Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia memunculkan dua pertanyaan besar bagi pasar. Pertama, siapa yang akan menjadi Gubernur BI berikutnya. Kedua, bagaimana arah rupiah setelah perubahan mendadak pada pucuk kepemimpinan bank sentral. Presiden Prabowo Subianto telah menerima pengunduran diri Perry setelah sekitar tujuh tahun memimpin BI.
Untuk sementara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Destry menegaskan kepemimpinan BI tetap berjalan secara kolektif kolegial bersama anggota Dewan Gubernur lainnya. Bank sentral juga memastikan tugas menjaga stabilitas moneter tetap berjalan selama masa transisi. Pengganti definitif Perry masih menunggu proses sesuai ketentuan perundang-undangan.
Pertanyaan berikutnya menyangkut arah rupiah setelah Perry mundur. Pergantian pemimpin bank sentral dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama ketika investor mencermati konsistensi kebijakan moneter. S&P Global Ratings menilai pengunduran diri Perry meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan Indonesia. Namun, S&P tetap mempertahankan peringkat Indonesia pada BBB dengan outlook stabil.
Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam rapat pada 21-22 Juli 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas rupiah. Pasar juga akan mencermati komunikasi BI selama kepemimpinan sementara Destry Damayanti.
Siapa pengganti Perry dan ke mana arah rupiah kini menjadi perhatian utama pelaku pasar. Sosok Gubernur BI berikutnya akan dinilai dari kompetensi, kredibilitas, dan kemampuannya menjaga independensi bank sentral. Sementara itu, pergerakan rupiah akan dipengaruhi kebijakan domestik serta kondisi ekonomi global. Transisi yang kredibel menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar setelah Gubernur BI mundur.
