Mahkamah Agung (MA) menerbitkan aturan baru terkait mekanisme praperadilan. Aturan tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum bagi proses perkara pidana. Kebijakan ini juga diharapkan mencegah penanganan perkara berlangsung terlalu lama.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2026. SEMA itu mengatur pelimpahan dan pemeriksaan perkara pokok ketika terdapat permohonan praperadilan. Aturan tersebut merujuk pada ketentuan KUHAP baru.

Dalam aturan tersebut, perkara pokok tetap dapat dilimpahkan ke pengadilan meski praperadilan sedang berjalan. Namun, pemeriksaan perkara pokok belum dapat dimulai sebelum praperadilan diputus. Ketentuan ini berlaku jika praperadilan diajukan sebelum perkara pokok diperiksa.

Berbeda jika perkara pokok sudah lebih dahulu dilimpahkan ke pengadilan. Pengajuan praperadilan setelahnya tidak menghalangi pemeriksaan perkara pokok. Permohonan praperadilan tetap dicatat dan diperiksa sesuai ketentuan. Namun, permohonan tersebut kemudian diputus tidak dapat diterima.

MA menyebut SEMA tersebut dibuat untuk mewujudkan asas peradilan sederhana, cepat, dan berbiaya ringan. Pengaturan ini diharapkan memberi pedoman yang lebih jelas bagi pengadilan. Dengan begitu, proses perkara tidak tertahan akibat ketidakjelasan hubungan praperadilan dan perkara pokok.