EKONOMI

Defisit APBN Purbaya Diramal Melebar jadi 2,85%, Setara Rp734,3 Triliun

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan melebar hingga 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini. Nilai tersebut diproyeksikan setara dengan sekitar Rp734,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan target awal pemerintah dalam APBN. Proyeksi itu disampaikan sebagai gambaran kondisi fiskal di tengah dinamika ekonomi global dan kebutuhan belanja negara yang terus meningkat. (antaranews.com)

Purbaya menjelaskan bahwa pelebaran defisit dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perlambatan penerimaan negara dan meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang aman dan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara. Pemerintah dinilai tetap memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung berbagai program prioritas nasional. (antaranews.com)

Menurut Purbaya, tambahan belanja negara diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pembangunan infrastruktur dan program sosial. Ia menekankan bahwa kebijakan fiskal harus tetap bersifat ekspansif namun terukur agar mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi, termasuk ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, dan kondisi pasar keuangan internasional. (antaranews.com)

Di sisi lain, pemerintah terus berupaya mengoptimalkan penerimaan negara melalui peningkatan kepatuhan pajak, perbaikan administrasi perpajakan, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan fiskal tanpa mengurangi efektivitas belanja negara. Pemerintah juga berkomitmen menjaga rasio utang pada level yang sehat sehingga keberlanjutan fiskal tetap terpelihara. (antaranews.com)

Sejumlah ekonom menilai pelebaran defisit APBN masih dapat diterima selama digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan produktivitas nasional. Namun, pemerintah tetap perlu menjaga disiplin fiskal agar defisit tidak terus melebar dalam jangka panjang. Efisiensi belanja, peningkatan kualitas investasi pemerintah, serta penguatan basis penerimaan negara dinilai menjadi kunci menjaga kesehatan APBN. (antaranews.com)

Proyeksi defisit APBN sebesar 2,85 persen atau sekitar Rp734,3 triliun menunjukkan pemerintah masih mengandalkan kebijakan fiskal sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meski tantangan ekonomi global masih membayangi, pemerintah optimistis pengelolaan APBN yang prudent dan terukur dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan