PSIM Yogyakarta mengakhiri musim Pegadaian Liga 2 2024/2025 dengan gemilang. Tak hanya promosi ke Liga 1, Laskar Mataram juga berhasil menggondol gelar juara setelah mengalahkan Bhayangkara FC dengan skor 2-1 dalam laga final yang menegangkan di Stadion Manahan, Solo. Pertandingan yang sempat tertunda karena hujan deras ini akhirnya dimenangkan PSIM berkat gol penentu di masa injury time.
Kemenangan ini menjadi puncak dari performa konsisten PSIM sepanjang musim. Sejak awal, mereka tampil dominan. Rafinha, penyerang andalan PSIM, menjadi bintang dengan torehan 20 gol dari 22 penampilan, meskipun gelar top skorer direbut pemain lain. Meskipun begitu, Rafinha tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga 2. Gol spektakulernya lewat tendangan bebas dalam laga final menjadi bukti kualitasnya.
Jalan menuju juara tak selalu mulus. PSIM sempat mengalami kekalahan, namun mentalitas juang dan strategi yang tepat, terutama di bawah arahan pelatih caretaker Erwan Hendarwanto (yang menggantikan Seto Nurdiyantoro), membawa mereka melewati setiap rintangan. Erwan sendiri sukses membawa PSIM meraih tujuh kemenangan dan hanya sekali kalah dalam delapan laga beruntun. Catatan impresif ini menunjukkan tangan dinginnya dalam membimbing tim.
Keberhasilan PSIM juga merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh tim. Kemampuan mereka untuk bangkit dari ketertinggalan dan meraih kemenangan di laga-laga krusial menjadi kunci kesuksesan. Delapan kemenangan, lima kali imbang, dan hanya tiga kekalahan di babak penyisihan, serta perjalanan impresif di babak play-off, membuktikan konsistensi permainan mereka.
Secara keseluruhan, musim ini menjadi bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi PSIM Yogyakarta. Mereka berhasil mengawinkan prestasi dengan meraih promosi ke Liga 1 dan gelar juara Liga 2, sebuah pencapaian luar biasa yang akan dikenang dalam sejarah klub. Selamat untuk PSIM Yogyakarta!
PSIM Yogyakarta mengakhiri musim Pegadaian Liga 2 2024/2025 dengan gemilang. Tak hanya promosi ke Liga 1, Laskar Mataram juga berhasil menggondol gelar juara setelah mengalahkan Bhayangkara FC dengan skor 2-1 dalam laga final yang menegangkan di Stadion Manahan, Solo. Pertandingan yang sempat tertunda karena hujan deras ini akhirnya dimenangkan PSIM berkat gol penentu di masa injury time.
Kemenangan ini menjadi puncak dari performa konsisten PSIM sepanjang musim. Sejak awal, mereka tampil dominan. Rafinha, penyerang andalan PSIM, menjadi bintang dengan torehan 20 gol dari 22 penampilan, meskipun gelar top skorer direbut pemain lain. Meskipun begitu, Rafinha tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga 2. Gol spektakulernya lewat tendangan bebas dalam laga final menjadi bukti kualitasnya.
Jalan menuju juara tak selalu mulus. PSIM sempat mengalami kekalahan, namun mentalitas juang dan strategi yang tepat, terutama di bawah arahan pelatih caretaker Erwan Hendarwanto (yang menggantikan Seto Nurdiyantoro), membawa mereka melewati setiap rintangan. Erwan sendiri sukses membawa PSIM meraih tujuh kemenangan dan hanya sekali kalah dalam delapan laga beruntun. Catatan impresif ini menunjukkan tangan dinginnya dalam membimbing tim.
Keberhasilan PSIM juga merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh tim. Kemampuan mereka untuk bangkit dari ketertinggalan dan meraih kemenangan di laga-laga krusial menjadi kunci kesuksesan. Delapan kemenangan, lima kali imbang, dan hanya tiga kekalahan di babak penyisihan, serta perjalanan impresif di babak play-off, membuktikan konsistensi permainan mereka.
Secara keseluruhan, musim ini menjadi bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi PSIM Yogyakarta. Mereka berhasil mengawinkan prestasi dengan meraih promosi ke Liga 1 dan gelar juara Liga 2, sebuah pencapaian luar biasa yang akan dikenang dalam sejarah klub. Selamat untuk PSIM Yogyakarta!



















